Naluri Perasaan

Aku, Naluri, dan Perasaan

Ketika berada pada sebuah cakrawala, selaksa suara saling berebut penuhi rongga fikirku. Tentang kita. Ya kita. Kita yang sedang di mabuk asmara, mungkin. Tapi pemabukan itu kini hampir pudar karena hujan semalam. Dan aku tahu ada petir tersembunyi di balik awan tebal itu, yang suatu saat akan tergelegar juga bunyinya. Barangkali, tanpa siapapun menduganya, aku bukan hanya akan terkejut, tapi mungkin pingsan. Bahkan mati. Ya, rasa ini bisa mati. Bisa tak peduli.

Sulit aku memposisikan naluri dan perasaanku. Karena keduanya sama-sama kuat. Saling tarik dan menempatkan kebenarannya masing-masing. Perasaanku berkata, “dia, wanita tersembunyi itu hanya mencari sensasi di depan para sahabat dekatmu, Din, supaya kamu terbakar karena kobarannya. Tapi Naluriku dengan lantang membantahnya, “bisa jadi dia memang orang penting di hatinya, setidaknya kedudukannya sama denganmu.” Kupikir ke dua dialog itu mempunyai kekuatan yang sama kuatnya. Wanita itu memang bisa jadi orang penting dalam kehidupan wanitaku, jika tidak, bagaimana dia juga mengerti keadaan, situasi, dan kondisi wanitaku sedetail itu, bahkan yang paling up date sekalipun. Saat wanitaku bahagia, saat wanitaku sakit, saat wanitaku sedih, dan di posisi mana pun wanitaku berada. Menurutku, sensasi itu bisa saja sengaja diciptanya karena patah hati, mungkin, karena cintanya ditolak, atau wanita itu belum mempunyai kesempatan mengutarakannya, tapi telah terdahului olehku. Ya Allah, manakah yang benar diantara keduanya? Atau aku tak perlu memikirkannya sama sekali?

Naluriku kembali menghardikku dengan keras, “pikir Din, buka mata hatimu. Sewaktu wanitamu mendatangi salah satu sahabat wanita tersembunyi itu, dia hanya beralasan menitipkan sesuatu kepadamu, tapi sebenarnya dia kesana karena wanita tersembunyi itu. Pikir lagi, bagaimana semendadak itu dia pergi ke tempat sejauh itu. Tidak logis, kan? Dia pasti sudah punya rencana, setidaknya diberitahu jauh sebelumnya, tapi ragu antara memberi kabar padamu atau tidak, dan akhirnya keputusannya adalah memberimu khabar supaya terkesan menghargai perasaanmu. Dan sebenarnya aku juga sedikit bangga padamu, karena kamu sebenarnya gadis yang cerdik, ingat kan bagaimana respon langsungmu ketika itu? Kamu mengatakan bahwa jika mau kencan ya kencan saja, ngga usah alasan ini dan itu. Dan kamu akhirnya benar-benar sewot, ngambek, tiga hari wanita itu kamu diamkan. Dia kelabakan. Entah itu hanya kepura-puraannya di depanmu, atau memang demikian. Jika dia tidak sedang berbohong denganmu, aku akan memberi satu point untuk daftar kebaikannya sebagai calon pendampingmu. Dan pikirkan pula ketika wanitamu memberi sesuatu kepada wanita tersembunyi itu, baik benda ataupun khabar privacy, tidakkah itu cukup untuk kamu mempertimbangkannya? Bukankah menurutmu sendiri hal itu melampaui batas kewajaran untuk seorang sahabat biasa? Bagaimana andaikan kamu beritahu bahwa seseorang telah memberikan selandang sutera kepadamu? Tidakkah dia mencemburuimu? Kenapa tidak kamu katakan saja ke wanitamu itu, supaya dia berpikir bagaimana menghargai perasaanmu?”

Aku lama terdiam. Desahanku terasa sangat berat. Sebongkah batu bagai menindih dadaku. Naluriku, menyimak pidatomu yang begitu panjang dan lebar, membuat aku takut mendengarnya, karena aku sendiri berada pada posisi antara percaya dan tidak itu.

“Kamu boleh untuk tidak mempercayainya,” perasaanku mensuport dengan sangat manisnya. Ya Tuhan, bagaimana aku tidak mempercayainya? Tidakkah nanti aku akan menyesal jika tidak mempercayainya? “Tidak!” begitu jawabmu perasaanku. Katamu lagi, “jika kamu selalu berpikir negatif tentang wanitamu, berarti kamu telah berhasil dipecundangi oleh mereka, bukankah dengan mendatangi sahabat dari wanita tersembunyi itu, wanitamu sebenarnya telah berhasil dipencundangi? Jika perkiraan itu salah berarti kamulah yang telah ditipunya mentah-mentah. Mereka pasti punya visi dan misi untuk menghancurkanmu dengan cara meninabobokanmu. Ini yang harus kamu waspadai, jangan mudah terjebak oleh kidung malam. Kamu telah kenyang makan garam kehidupan, jangan terulang kembali kegagalan.”

Rasaku bertahan begitu kuatnya, mengguratkan akar-akarnya pada pembuluh darahku. Ya Allah, manakah yang benar diantara keduanya? Pada siapa aku harus berpihak? Aku hampir lelah. Tinggal sebulan pertemuan itu. Aku harus mempersiapkan diri sebaik mungkin. Aku harus punya pegangan untuk berhadapan dengan wanita di hidupku kini.

Aku menangkap dupa kebohongan yang terhembus dari kuil-kuil persembahyangan. Kebohongan. Dia tak jujur padaku. Benarkah dengan maksud menghargai perasaanku? Atau menghormati harga diriku? Dengan cara seperti itukah? Tidak fair. Naluriku, bicaralah.., bicaralah sesuatu, bagaimana aku harus melangkah?

Aku terus berputar-putar mencari satu titik jawaban, diantara naluri, perasaan, dan jasadku sendiri, saling berkejaran menggapai satu titik temu. Ya. Aku harus menemukan poros dari perputaran itu. Tapi, dalam pelarian itu aku bimbang pada jalan yang kupilih.

“Din, segala sesuatu memang bisa berangkat dengan cinta, karena cinta adalah kekuatan dalam hidup. Ingat bagaimana ibumu memperjuangkan kelahiranmu? Karena tergerak oleh rasa cinta ingin memilikimu, bukan? Tapi tidak cukup hanya dengan rasa cinta itu saja, kan? Kamu ingat juga tentunya, bagaimana ibumu bergelut dengan hidup, mempertaruhkan kehormatan dan harga dirinya? Semua itu dilakukannya karena ingin mempertahankan kehidupanmu, sebagai bentuk rasa tanggung jawabnya terhadapmu. Kamu adalah titipan Allah yang wajib untuk dijaga, dicukupi kebutuhan hidupmu! Betul, kan? Kau mengerti maksudku, Din?”

“Cukup, Naluri. Kisi hatiku pedih jika mengenang sejarah itu. Aku cukup mengerti bahwa hidup tidak hanya cukup dengan cinta, meskipun cinta itu mempunyai suatu kekuatan yang maha dahsyat, karena dengan cinta, segala sesuatu bisa terasa lebih mudah.”

“Lalu, kenapa tak kau uji wanitamu itu? Seberapa kekuatan yang dimilikinya untuk memiliki dirimu?”

“Apa maksudmu, Naluri?”

“Seberapa kau mengerti hakekat sebuah cinta? “

Aku menggeleng. Kau lama sekali terdiam, Naluriku? Mengapa kau tanyakan itu? Dalam hatimu pasti tengah menertawakan kedunguanku. Hakekat. Apa itu hakekat dari sebuah cinta? Benarkah hanya sebentuk rasa take and give? Atau setali rasa saling menghargai pasangan, saling menyayangi, saling mengerti dan memberi kepercayaan? Seberapakah kadar yang harus dituangkan dalam sebuah hubungan itu? Aku terlalu mengkhawatirkannya sejak kurasakan ada duri mengintai setiap langkahku, sejak perempuan itu turut mewarnai langit yang terlukis dalam kanvas hidupku? Aku yakin, kau tahu kegelisahanku, hai wanitaku? Atau kau berpura-pura tak mau tahu? Brengsek! jika itu benar.

Naluriku, aku ingat, wanitaku sering berkata tentang sebuah hakekat. Hakekat kepercayaan pada Tuhan. Sesuatu yang sepenuhnya belum aku pahami meskipun sedikit bisa aku mengerti. Meskipun aku jarang menunaikan sholat, tapi aku tetap berpegang pada apa yang seharusnya kupegang. Agar tiangku tak lekas ambruk. Ah, dia wanitaku itu, pasti merasa tak perlu pegangan itu, karena merasa bahwa dengan sebuah hakekat dia bisa bertemu dengan-Nya? Tapi benarkah itu? Aku tak percaya. Tidakkah itu sebagai bentuk pembangkangan? Jika Tuhan saja dibangkangnya, jika kedua orang tua saja kadang tidak dipedulikannya? Bagaimana denganku? Bagaimana? Naluriku, kau juga perasaanku, tolong kasih aku masukan.

“Demi mewakili sebuah rasa yang bertaut di sebongkah ragumu, aku akan berkata bahwa bisa saja itu sebagai bentuk cinta di atas cinta itu sendiri. Hakiki. Bukan sebagai pembangkangan.”

“Tidak!” Naluriku lantang berkata. “dari mana definisi sebuah hakiki itu di dapat? Jika Tuhan saja dibangkang, orang tua tak dipedulikan, bisa jadi kamu pun tak ada artinya apa-apa, Din. Bangunlah. Sadar!”

Bangun? Sadar? Aku tidak sedang tidur atau pingsan, wahai dua sahabat baikku. Aku tahu keberadaanku sekarang. Aku di persimpangan. Aku memang mencintainya dan jangan tanya cinta model apa yang kumiliki saat ini. Karena aku ingin berangkat ke satu titik itu dengan landasan cinta-Nya. Tidakkah cita-citaku itu sebuah harapan yang mulia? Tentu kalian tahu, aku miskin cinta. Karena aku terlahir dari serpihan puing-puingnya. Aku tak mendapatkan setitik sinar untuk membuka kegelapan. Aku hanya diberi tangga. Aku harus mampu meraba-raba dengan jiwa dan semangat hidup. Naluriku, cobalah beri aku penengah? Manakah pilihan terbaik?

“Din, bagaimanapun, kamu belum mengenalnya dengan baik, jangan mengambil keputusan apapun di saat ini. Komunikasikan dengan dia saat bertemu nanti. Apa tujuan yang ingin kalian gapai. Tanyakan, jika memang dia serius ingin mengajakmu mengarungi sebuah biduk, dia harus sanggup menjagamu, melindungimu, membimbingmu, agar biduk itu berlabuh pada sebuah dermaga kedamaian. Ingat. Rumahmu adalah surgamu!”

Aku diam menikmati tutur Naluriku. Perasaanku diam tertekan. Tapi tergerak karena rasa, dia pun bersuara, ”tanyakan juga dengan jelas dan dapatkan jawaban yang jujur dari wanitamu, tentang wanita tersembunyi itu, bisa jadi di depanmu wanitamu mengatakan bahwa dia wanita biasa dalam hidupnya, tapi di depan wanita itu pun begitu pula yang dikatakannya tentang dirimu. Kamu jangan sampai terjatuh pada wanita yang hanya mengedepankan dirinya sendiri.”

“Ya. Perasaanmu benar. Kamu harus bisa mengajaknya untuk mengerti keinginanmu, tapi kau juga harus mendengar harapannya. Akan lebih baik jika harapan itu bisa kalian padukan, jika tidak, tahu sendiri akibatnya. Bagaimana kamu akan sanggup hidup dengan wanita yang selalu menomorsatukan egonya? Karena itu suatu pertanda ketidakdewasaannya dalam menyikapi hidup. Ingat, Din. Kamu dalam pasca pembenahan. Jangan tercebur lagi dalam kebodohanmu. Kebangkitanmu harus tertunjang oleh orang yang tepat. Jika wanita itu tetap pada keegoisannya, kamu harus meninggalkannya!”

“Tidak. Aku tak mungkin meninggalkannya!”

“Kamu harus meninggalkannya jika wanita itu hanya akan membawamu pada kehancuran. Sebaik-baik wanita, sekaya-kaya wanita, setampan-tampan wanita, jatuhkanlah pilihan pada wanita yang berakhlak mulia dan patuh pada ajaran-Nya. Camkanlah itu! Demi keselamatan dunia dan akhiratmu!”

“Ah, Nalurimu terlalu berlebihan dalam bernasehat. Kamu sudah dewasa. Kamu bisa menentukan jalan hidup terbaik yang layak kamu pilih,” elak perasaanku.

Riuh suara tidak lagi terdengar. Dalam sunyi kutelusuri lekukan lembah pada wanitaku. Dibagian manakah kedua hal yang seharusnya kucamkan itu terselubung? Aku melihatnya meskipun tersamar. Benar. Aku harus mulai memanajemen kehidupan dan komposisi cinta. Tidak boleh kubagi ke sembarang wanita, sekalipun dia sangat berarti dalam kehidupanku, termasuk kamu, wanitaku!

Tidak ada postingan.
Tidak ada postingan.